arfa's posts with tag: karya kang abik
 | Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | Habiburrahman El Shirazy |
Cetakan : VII Tebal : 471 halaman
Pulang kantor Sabtu siang kmrn, mampir ke Gramed bareng Meddy, niatnya mo beliin AAC buat temen yg tinggal d pelosok pulau sana :D, tapi di pajangan itu AAC udah ga ada lagi , mo nanya k mba nya juga males. Trus di deretan yg waktu itu aku liat AAC, ada novel2 karya Kang Abik yg lain.., salah satunya Ketika Cinta Bertasbih. Sebenarnya udh lama dengar tentang novel ini, tapi blm tau pasti gimana ceritanya, soale pas tau dan kepengen beli, temenku yg waktu itu lagi kebetulan d Mdn bilang “ngapain beli, mending beli judul laen. Kalo pengen baca Ketika Cinta Bertasbih yg punya gw aja, tar deh kalo gw dah balik gw pinjemin”. Dan diurungkanlah niat utk beli KCB, tapi yg ada tu anak udah balik malah ga muncul, ga tau rimbanya dimana, hingga skr dia bener2 pindah k Jkt. Tuh… kan… gw jadi telat tau ceritanya, mending gw langsung beli aja dari waktu itu…. *he he.. menyesali kemudian emang ga ada gunanya kaleee*.
Ketika Cinta Bertasbih di dalamnya memuat kisah hidup mahasiswa Indonesia yg sedang kuliah di Mesir (rada mirip AAC yak?), tapi kali ini menjadi lebih seru, karena konflik yg muncul bukan hanya pada Azzam si tokoh utama, yg nama lengkapnya Abdullah Khairul Azzam, tetapi juga muncul pada Furqan, Fadhil, Hafez, Tiara, Eliana, Cut Mala, Anna dan kesemuanya adalah soal hidup dan cinta .
Azzam adalah pemuda yg memiliki idealisme tinggi, sampai2 pada tahun pertama dia di Mesir terpampang tulisan “Aku tidak akan pulang ke Indonesia sebelum menyandang gelar Doktor” di meja belajarnya, dan itu pula yg mengantarnya pada predikat jayyid jiddan di tahun pertamanya, namun… manusia hanya bisa berencana dan Allah subhanahuwata’ala yg menentukan segalanya, karena memasuki tahun kedua, ayahnya meninggal karena tabrakan, dan ibunya sering sakit2an, tdk mampu bekerja untuk menghidupi ketiga adiknya yg masih kecil dan perempuan semua. Sejak saat itu, Azzam membanting tulang di Negeri Seribu Menara, mengumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil keringatnya, utk dtransfer ke rekening ibunya, sebagai biaya sekolah adik2nya.
Alhasil, karena menekuni bisnis membuat tempe dan bakso, kuliah Azzam jadi terbengkalai. Hampir 9 tahun di Mesir, S.1 nya pun masih blm selesai, sementara Furqan, temannya yg 1 pesawat saat berangkat pertama kali ke Mesir dulu, saat ini baru saja menyelesaikan S.2nya.
…..Dadanya sebenarnya membara juga. Lebih membara lagi saat dia ingat gara-gara keterlambatannya meraih gelar akademis ia dianggap tidak layak melamar Anna. Dan gadis yang kini jadi bintang bersinar itu juga akan disunting oleh Furqan.
Namun ia segera sadar, ia harus menata hati. Ia harus sadar bahwa keadaan dirinya dan Furqan sangatlah berbeda. Furqan serba cukup bahkan berlimpah. Sementara dirinya harus memeras keringat dan berdarah-darah. Ia sadar semuanya Allah yang mengatur. Ia berusaha menyejukkan hatinya bahwa prestasi tidak hanya terbatas pada meraih gelar akademis formal.
Ia bisa bertahan hidup mandiri sekian tahun di Cairo apakah bukan suatu prestasi? Ia teringat surat dari adiknya. Husna telah sarjana, bahkan telah menyelesaikan program profesinya sebagai psikolog. Lia telah menyelesaikan PGSD-nya dan telah mengajar. Hatinya terhibur dan terasa sejuk.”orang bisa memiliki prestasinya masing-masing”, katanya pada dirinya sendiri.
Biarlah teman-temannya nanti ada yang menjadi guru besar, pemikir besar, kiai besar, muballigh besar, sementara ia ingin menjadi konglomerat besar.
Konglomerat besar?? Ya itulah cita-citanya, setelah bertekad akan menyelesaikan S.1 tahun ini juga, dia akan balik ke Indonesia dan jadi konglomerat besar. Surat dari Indonesia inilah yang membarakan tekadnya agar bisa menyelesaikan S.1 tahun ini juga. :
Menjumpai Kakakku Tercinta Abdullah Khariul Azzam Di Bumi Para Nabi
Assalamu’alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh.
Dari pojok kota Kartasura tercinta kami tiada henti mengirimkan doa, semoga Kak Azzam senantiasa sehat, terjaga dari segala keburukan, dan berada dalam selimut rahmat-Nya siang malam. Amin.
Kak, Alhamdulillah, kami semua di rumah baik, sehat wal aiyat, berlimpah rahmat Allah. Ibu Alhamdulillah baik dan sehat. Beliau sudah sangat rindu pada Kakak. Husna sendiri juga sehat. Dua minggu yang lalu Husna menerima ijazah profesi, Husna sudah bisa Praktik sebagai psikolog. Segala puji bagi Allah Swt. Ini tak lepas dari jasa Kakak. Lia sudah menyelesaikan D.2 PGSD-nya. Ia kini mengajar di SDIT Al Kautsar Solo. Dan Sarah masih belajar di pesantren Al-Quran di Kudus. Terakhir Husna ke Kudus ia sudah hafal Juz 27, 28, 29 dan 30.
Kak Azzam tercinta,
Selama delapan tahun unu sejak ayah berpulang ke rahmatullah, engkau telah menunaikan kewajibanmu dengan baik. Lihatah kami, kini adik-adikmu sudah bisa engkau banggakan. Kami sangat berterimakasih dan bangga kepadamu Kak. Selama ini kami tahu engkau tidak lagi memikirkan dirimu Kak. Studimu di Al Azhar yang seharusnya bisa belesai dalam empat tahun, bahkan sampai sekarang, belum juga selesai. Padahal kau sudah sembilan tahun di Mesir. Kami tahu bahwa kau mengorbankan dirimu dan segala idealismemu demi untuk membiayai hidup dan sekolah kami.
Kak Azzam tercinta, Aku sendiri masih ingat surat Kakak ketika kakak berhasil naik tingkat tahun pertama di Al Azhar. (Surat itu masih kusimpan baik-baik Kak). Dalam surat itu kakak menjelaskan kapada ayah, bahwa kakak adalah satu-satunya mahasiswa dari Indonesia tingkat pertama yang meraih predikat jayyid jiddan, atau Sangat Baik. Saya masih ingat Kak, begitu membaca surat kakak, ayah lagsung sujud syukur dan menangis haru bahagia. Ayah sangat bangga. Ayah langsung meminta Ibu masak enak dalam porsi besar. Malam harinya Ayah mengundang tetangga kanan kiri untuk syukuran. Saat itu aku juga sangat bangga pada kakak.
Kak Azzam tercinta, Satu bulan setelah menerima surat dari kakak, ayah dipanggil Allah. Ayah meniggal karena kecelakaan. Tahukan engkau kakakku, ternyata di saku baju ayah yang berlumuran darah itu ada suratmu. Sedemikian bangganya ayah pada dirimu, bahkan suratmu itu selalu dibawanya ketika ayah pergi kerja. Saat Ayah tiada, kami merasakan dunia terasa gelap, namun, kau dari negeri para nabi menguatkan kami. Kepada kami, adik-adikmu ini kau berpesan untuk terus tenang dan konsentrasi belajar. Sejak itu kau datang tiap bulan dengan kirimanmu yang kau transfer lewat bank ke rekening ibu. Ibu yang memang sering sakit dan tidak bisa lagi bekerja keras sering menangis, aku yakin ibu menangis haru bercampur bangga, setiap kali menerima transferan uang dari kakak.
Tak lama setelah itu aku tahu dengan detil apa yang kakak lakukan di Mesir untuk kami. Kakak bekerja keras membuat tempe, berjualan tempe dan membuat bakso demi kami. Kakak rela mengorbankan studi kakak demi kami. Kami tahu pasti itu sangat berat bagi kakak. Sebab kami tahu mental kakak sejatinya adalah mental berkompetisi dan berprestasi. Sejak SD sampai Madrasah Aliyah kakak selalu rangking satu. Dan karena perestasi kakak itu, di setiap pelepasan kelulusan, dari SD sampai Madrasah Aliyah, ayah selalu diminta pihak sekolahan untuk maju ke panggung pelepasan, sebagai wali murid dari siswa paling berprestasi. Tak henti-hentinya ayah membanggakan prestasi kakak itu kepada kami, anak-anaknya. Kami pun terlecut karenanya.
Kak Azzam,
Sungguh saat mengetahui hal itu aku menangis. Nun jauh di sana, di negeri para nabi kakak mati-matian jualan temped an bakso dami kami. Sungguh Kak, semangatku untuk survive, untuk maju dan berprestasi semakin terlecut, terlecut, dan terlecut. Adik-adik juga terlecut. Hari berganti hari. Matahari terus terbit dan tenggelam. Sudah delapan tahun kakak membanting tulang dan berkorban. Kini kakak bisa segera pulang untuk melihat adik-adik kakak yang Alhamdulillah sudah bisa menatap masa depan dengan kepala tegak berlimpah rahmat Tuhan seru sekalian alam.
Kak Azzam tercinta,
Kami tahu sebentar lagi kakak akan menghadapi ujian. Sudah saatnya kakak menata masa depan kakak. Kami berharap saat ini kakak kembali konsentrasi ke studi kakak. Kakak harus segera selesai dan segera pulang. Kami semua sudah rindu. Sementara jangan pikirkan kami dulu. Insya Allah kami berkecukupan. Aku sendiri sejak dua bulan ini sudah menjadi pengisi rubric psikologi remaha di Raido JPMI Solo, juga diminta sebagai asisten dosen di UNS. Dik Lia sudah menjadi pengajar tetap di SDIT. Gaji kami berdua Insya Allah cukup untuk hidup layak. Jika kakak ada rejeki dialokasikan saja untuk membeli tiket pulang dan mungkin membeli buku-buku referensi yang pasti akan sangat kakak perlukan jika nanti mengamalkan ilmu di Tanah Air.
Kak Azzam tercinta,
Harapan kami kakak bahagia membaca surat ini. Lia titip salam. Salam rindu dan kangen tiada tara katanya. Sarah titip kecupan cinta katanya. Ibu titip setetes airmata cinta dan bangga untukmu kakakku tercinta. Ini dulu ya. Selamat menempuh ujian. Semoga lulus dan segera pulang ke Tanah Air. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan taufik-Nya kepada kakak. Amin.
Wassalam,
Dengan sepenuh cinta, Adikmu,
Ayatul Husna
Novel ini juga memuat nasehat, penggalan ayat Al-Qur’an&hadits serta kata2 bijak dari para ulama, yang muncul berdasarkan konflik dan masalah yang dialami para pelaku di dalamnya. Dan tentu saja kisah yang sama mungkin pernah kita alami, atau bisa dijadikan pelajaran dalam menyikapi kehidupan. Kang Abik sungguh luar biasa dalam merangkai tiap kalimat dan kisah di dalamnya. Berikut beberapa diantaranya :
>>> Begini Anakku, jika suatu ketika kau dimurkai Ibumu misalnya, carilah sebab kenapa kau dimurkai Ibumu. Hayati perasaanmu saat itu, saat kau dimurkai. Ibumu murka kemungkinan besar karena kau melakukan suatu kesalahan, yang karena kesalahanmu itu Ibumu murka. Dan saat kau dimurkai pasti kau merasakan kesedihan, bercampur ketakutan dan juga penyesalan atas kesalahanmu. Itulah yang kau temui dan kau rasakan, saat itu. Lalu hayati hal itu sungguh-sungguh, dan hubungkan dengan akhirat. Bagaimana rasanya jika yg murka kepadamu adalah Allah. Murka atas perbuatan2mu yg membuatNya murka. Bagaimana perasaanmu saat itu. Mampukah kau menaggungnya. Jika yg murka adalah ibumu, kau bisa minta maaf, karena kau masih ada di dunia. Jika di akhirat, bisakah minta maaf kepada Allah saat itu?
>>> Resep Cinta Ibnu Athaillah : Tidak ada yang bisa mengusir syahwat atau kecintaan pada kesenangan duniawi selain rasa takut kepada Allah yang menggetarkan hati, atau rasa rindu kepada Allah yang membuat hati merana!
>>> Mari kita sama-sama insyaf. Cinta sejati itu tidak menzalimi. Cinta sejati berorientasi ridha Ilahi. Allah…. Allah… Allahurabbi…
Note : ketika membaca novel ini, membaca perjuangan Azzam di negeri orang, aku ingat seorang teman, yg sedang menimba ilmu di negeri seberang, yg sempat dipanggil Dekan krn S.1 nya belum kunjung selesai di bilangan tahun yg sdh lebih dari 6. Karna dia harus kerja keras utk memenuhi biaya hidup dan uang kuliah. Hmmm… kemarin ada kabar baik darinya. Alhamdulillah. Dia ditawari utk lanjut ke S.2 dan sekaligus mjd Researsch Asisstant (RA), “dgn gaji yg lumayan utk seorang bujang”, begitu katanya. Selamat Berjuang kawan… Semoga Sukses dan Keberhasilan itu untukmu

 | Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | Habiburrahman El Shirazy |
Penerbit : Republika Cetakan : VII Tebal : 111 halaman
Ini buku karangan kang Abik yang ke…sekian yg aku beli. Setelah Ayat-Ayat Cinta, Di Atas Sajadah Cinta, …, Pudarnya Pesona Cleopatra.
Dalam buku ini ada 2 judul cerita yg disebutnya novel mini. Beda ama Ayat-Ayat Cinta (A2C) yg berlatar kehidupan mahasiswa Indonesia di Mesir, di Pudarnya Pesona Cleopatra ini ceritanya mengambil latar di Indonesia, dan tidak terlepas dari kehidupan mahasiswa Indonesia di Mesir, karena tokoh utama pada novel ini sebelumnya memang pernah menuntut ilmu di Mesir, dan masih menganggap bahwa Mona Zaki yg artis Mesir itu adalah wanita yg sempurna dibandingkan Raihana, istrinya di awal perkawinan mereka.
Novel ini memakai gaya bercerita orang pertama. Si “Aku” sebagai tokoh utama selalu membandingkan istrinya dgn para wanita Mesir, tidak ada cinta, tidak ada kasihsayang, tidak ada perhatian dan kepedulian dalam perkawinan mereka, karena semua berawal dari perjodohan oleh sang Ibu dengan teman akrabnya waktu nyantri dulu.
Tapi cinta adalah selera. Dan selera orang berbeda-beda. Dan aku selalu menolak jika orang mengatakan gadis Mesir banyak yang gembrot. Aku justru melihat jika ada delapan gadis Mesir maka yang cantik ada enambelas. Karena bayangannya juga cantik. Aku mungkin terlalu memuji keelokan gadis Mesir. Itulah selera. Selera adalah rasa suka yang muncul begitu saja dalam jiwa dan terkadang susah dipahami.
Tapi bagi Raihana, gadis cantik yang baby face, lulusan terbaik di kampusnya dan juga hapal Al-Qur’an itu, mengabdi pada suami adalah segalanya. Tidak peduli bagaimana perlakuan suami di rumah, tetapi ketika ada pertemuan keluarga dia tidak pernah mengeluhkan apa yg dialaminya, dia tetap menggandeng tangan suaminya, terlihat mereka begitu mesra dan serasi, walaupun di rumah mereka hal itu tidak pernah terjadi.
Hingga pada saat Raihana kembali k rumah orang tuanya dengan alasan kesehatan, pada saat usia kehamilannya 6 bulan, dan suami mesti tinggal sendirian, tanpa ada yg mengurusi.. Beruntung dia memiliki teman yg baik selama di pelatihan, seorang ustad dari Medan, yg punya pengalaman buruk setelah menikahi wanita Mesir.
Mendengar cerita Pak Qalyubi saya terisak-isak. Perjalanan hidup Pak Qalyubi menyadarkan diriku. Aku teringat Raihana, tiba-tiba ada kerinduan padanya menyelinap di hati. Dia istri yang sangat salehah.
Pulang dari pelatihan aku sempatkan mampir ke took busana muslim, membeli beberapa stel pakaian muslimah untuk Raihana. …. Segera kukejar waktu untuk membagi cintaku pada Raihana. Membagi rinduku yang tiba-tiba memenuhi rongga dada. Air mataku berderai-derai. Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang diiringi derai air mata yang tiada henti menetes di jalanan. Aku tak peduli. Aku ingin segera sampai dan meluapkan semua rasa cinta ini padanya. Padanya yang berhati mulia. Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak, ku tahan dengan mengambil nafas panjang dan mengusap air mata. Melihat kedatanganku, ibu mertua memelukku dan menangis tersedu-sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis, “mana Raihana, Bu?” Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa yang sebenarnya terjadi, “Istrimu, Raihana istrimu dan anak yang dikandungnya!” “Ada apa dengan dia?” “Dia….

| |