
| Category: | Books |
| Genre: | Nonfiction |
| Author: | Parlindungan Marpaung |
Cetakan : III
Tebal : 332 halaman
Berpikir Positif dan Kreatif. Itulah sebuah judul yang diberikan Aa Gym pada halaman pengantar buku ini. Buku yang memuat 5 Bab yang masing-masing berjudul : Kasih Sayang, Komunikasi, Motivasi, Profesionalisme dan Sikap Hidup. Masing-masing Bab terdiri dari beberapa judul, hingga jumlah keseluruhan judul dalam buku ini adalah 63 judul.
Kisah-kisah yang terdapat dalam buku ini, sebenarnya banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, hanya saja mungkin banyak dari kita tidak ngeh akan kejadian itu dan makna di baliknya. Misalnya saja kisah Andre, yang terus bertanya tentang gaji ayahnya per bulan, sang ayah bingung, tetapi tetap menjawab seluruh pertanyaan Andre. Dan di ujung pembicaraan mereka Andre mengajukan permohonan :
“Gini Yah! Tolong tambahin donk tabungan Andre Rp. 5.000,- saja, soalnya Andre sudah punya tabungan sebesar Rp. 45.000,-. Rencananya Andre mau membeli waktu Ayah setengah hari saja, supaya kita bisa pergi memancing bersama!”.
Kenapa bisa tercetus ide untuk “membeli waktu Ayah”?? karena ayahnya selalu tidak punya waktu untuk Andre, dan ketika hal itu ditanyakan kepada ibu, sang ibu menjawab “waktu ayah itu sangat berharga”. Mungkin itu hanya hal kecil, tapi sering luput dari perhatian kita. Disadari atau tidak, investasi terindah bagi putra-putri kita adalah waktu dan kualitas komunikasi yang proporsional bagi mereka. Dalam suatu seminarnya, Zig Ziglar pernah berseloroh “Kehadiran dan percakapan Anda di depan anak-anak Anda, lebih dari ribuan hadiah”. Alhamdulillah… thanks Mom, untuk seluruh waktu yang telah kau berikan untukku… I am a lucky girl.
Kisah lainnya yakni Arung Jeram. Inti dari kegiatan ini adalah kerjasama yang tangguh dalam melewati setiap jeram yang memang sulit untuk diprediksi sebelumnya. Satu-satunya alat yang dipergunakan-selain perahu karet-adalah daung (fadel). Dayung pun digerakkan mengikuti komando yang dipimpin oleh seorang skipper (kapten). Terkadang Kapten berteriak untuk mengomandoi awaknya agar belok ke kanan atau mendayung lebih kuat. Kadang ia bersuara normal dalam memberikan pengarahan. Sang kapten kelihatan ‘galak’, justru pada saat menghadapi jeram yang membahayakan. Semua anggota dilarang keras untuk mengambil inisiatif sendiri, baik berhenti mendayung maupun mendayung duluan tanpa diperintah.
Irama dayung mengikuti awak yang berada paling depan, sedangkan kapten berada pada posisi di belakang. Semua awak tidak merasa dimarahi oleh sang kapten karena semua merasa bukan tunduk pada sang kapten, melainkan tunduk dan taat pada standar keselamatan perjalanan perahu tersebut.
Satu-satunya cara untuk mengarungi ‘jeram-jeram’ perusahaan saat ini adalah dengan memelihara kekompakan tim. Ambisi yang berlebihan dari tiap anggota tim (pegawai) untuk meraih jabatan di perusahaan tanpa melihat kompetensi, justru akan membuat perusahaan semakin tidak terarah. Penyerapan anggaran yang tidak dilandasi oleh nilai-nilai kejujuran dan kejernihan hati akan semakin membuat perusahaan lemah dalam mengarungi perubahan yang terjadi karena mengalami kebocoran di sana-sini. Kurangnya koordinasi dan komunikasi juga menjadi penghambat pencapaian kerja tim. Jangan sampai kita uring-uringan karena ada satu hal yang belum dikerjakan dalam menghadapi suatu event besar, lalu sibuk ke sana-sini, grasak-grusuk agar hal itu dapat selesai secepat mungkin, sebelum event mulai. Dan tak tahunya, hal tersebut sudah dikerjakan dari kemarin dan telah selesai oleh rekan satu tim yang mejanya ada di sebelah meja kita. Hanya karena kurang komunikasi.
Mengutip quote Isabel Moore : “Kehidupan ini ibarat jalan satu arah. Seberapa banyak pun perubahan rute yang Anda tempuh, tidak satu pun akan membawa Anda kembali. Begitu Anda mengetahui dan menerima hal itu, kehidupan akan tampak menjadi jauh lebih sederhana.
Dan sebuah nasehat dari ilmuwan India, Dr. Manmohan Singh: “Tuhan menganugerahiku ketenangan untuk menerima hal-hal yang tidak dapat kuubah, keberanian untuk dapat mengubah hal-hal yang dapat kuubah, dan kebajikan untuk mengetahui perbedaannya”.
Setengah Isi Setengah Kosong, jika yang kita lihat adalah gelas kosong, maka kita harus mengisi gelas itu hingga penuh. Sebaliknya, jika yang kita lihat adalah gelas yang sudah berisi setengah, maka kita hanya perlu mengisi setengah lagi agar gelas itu dapat penuh.
